Oleh: Sunny Park, Assistant General Counsel and APAC Regional Director, Corporate, External and Legal Affairs, Microsoft Asia Pacific.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan World Economic Forum (WEF) 2018 di Vietnam beberapa bulan lalu, tim di WEF beberapa waktu lalu meluncurkan ASEAN Digital Skills Vision 2020 – sebuah inisiatif yang berikrar untuk membekali 20 juta pekerja ASEAN dengan keterampilan dan peluang digital dalam dua tahun ke depan. Hal ini bertujuan untuk mengatasi tantangan ketenagakerjaan dan keterampilan yang muncul dari Revolusi Industri Keempat.
Microsoft telah berikrar untuk menyediakan peluang magang untuk 15.000 mahasiswa, memberikan pelatihan keterampilan digital kepada 2,2 juta karyawan UKM, dan mempekerjakan 8.500 pekerja digital pada 2020 di seluruh ASEAN.
Inisiatif ASEAN Digital Skills Vision 2020 menawarkan peluang magang untuk warga negara ASEAN, pelatihan keterampilan digital dan pekerjaan. Inisiatif ini juga memungkinkan siswa dan masyarakat untuk mengunjungi kantor perusahaan teknologi untuk mempelajari tentang pekerjaan masa depan. Apa yang diharapkan dari inisiatif ini adalah untuk meningkatkan jumlah orang yang terlatih dan dipekerjakan di sektor digital, dan untuk membantu para pemimpin bisnis memahami dan mempelajari bagaimana perusahaan lain di wilayah ini mempersiapkan tenaga kerja mereka menjadi siap digital.
Saya melihat ASEAN sebagai visi tentang bagaimana komunitas dan negara-negara seharusnya di masa depan. Masa depan ekonomi tanpa batas, investasi, e-commerce dan pendidikan. Saya percaya masa depan di mana setiap anak muda memiliki keterampilan, pengetahuan, dan peluang untuk berhasil.
Saat ini, lebih dari setengah penghuni planet ini tidak memiliki akses dasar ke pengetahuan dan keterampilan yang akan memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital baru. Bersama dengan mitra kami, kami akan mengubahnya. Kami akan memberdayakan setiap orang dan UKM di ASEAN untuk mencapai lebih banyak.
Keterampilan digital sangat penting untuk pekerjaan di saat ini dan di masa depan dan dapat membuka pintu untuk peluang ekonomi yang lebih besar. Di negara-negara berkembang di ASEAN, dimana infrastruktur dan industri masih mengejar ketertinggalan dengan negara tetangga mereka yang lebih maju, angkatan kerja diperkirakan akan berkembang sebanyak 11.000 pekerja per hari dalam 15 tahun ke depan. Mari pikirkan hal ini sejenak, peningkatan ini terjadi di saat robot industri sudah mengambil tempat buruh pabrik!
Di saat yang bersamaan, pemimpin ASEAN juga berharap pada transformasi digital untuk membantu industri untuk bertumbuh- untuk meningkatkan produktivitas mereka, meningkatkan efisiensi – untuk tumbuh melampaui batas mereka dan berkolaborasi dengan seluruh dunia.
Terdapat dua tantangan yang dihadapi oleh industri-industri tersebut yaitu: kekurangan talenta dan pertumbuhan e-commerce.
Dalam studi terkini Korn Ferry mengenai kurangnya bakat global senilai $8,5 triliun, Indonesia, misalnya, diperkirakan akan menghadapi defisit talenta besar-besaran hingga 18 juta pekerja pada tahun 2030, dimana manufaktur akan menjadi yang paling terpukul karena ketidaksesuaian antara ketersediaan keterampilan dan kebutuhan industri.
Pertumbuhan pesat e-commerce di Asia Tenggara, diharapkan bernilai US$88,1 miliar pada tahun 2025, yang didukung oleh 330 juta pengguna internet di seluruh negara yang menghabiskan sekitar 140 menit untuk berbelanja online setiap bulannya.
Saya sangat yakin bahwa teknologi dapat menjadi kekuatan yang signifikan untuk inklusi sosial dan ekonomi. Ini hanya dapat terjadi seiring dengan perusahaan teknologi dan pemerintah yang berikrar untuk bekerja sama dan ASEAN Digital Skills Vision 2020 menjadi awal yang baik. Di Indonesia, selama 23 tahun terakhir Microsoft tanpa lelah terus meningkatkan tidak hanya investasi dalam teknologi. Dengan menggandeng pemerintah, Microsoft bekerja sama dengan organisasi nirlaba, sekolah, dan juga pendidik dalam melatih generasi siap masa depan melalui pelatihan guru dan menciptakan peluang dalam belajar keterampilan digital seperti program Generasi Bisa! dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB Foundation) dan 1000 Youth Digital Skills dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO).
Kami memperlengkapi sumber daya manusia dan organisasi dengan keterampilan, dengan begitu kami memberdayakan mereka untuk meraih lebih banyak, kami membantu mereka untuk belajar lebih banyak, dan yang paling penting, kami memungkinkan komunitas dan negara mereka untuk berkembang dalam ekonomi digital baru.