Melibatkan Partisipasi Perempuan di Industri STEM

 |   Debora Agnes Noviyanthi

Pada tanggal 21 April, kami merayakan Hari Kartini dan memperbarui komitmen kami untuk mempromosikan kesetaraan gender yang lebih besar di tempat kerja, dan seterusnya. Masalah ini lebih dari sekadar masalah keadilan dasar; namun terbukti memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi organisasi dan masyarakat yang memilih untuk menerimanya.

Fenomena UMKM yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia pun turut didominasi oleh para pengusaha perempuan. Walaupun demikian, masih ada sejumlah tantangan dalam menarik tenaga profesional perempuan untuk bekerja karena kurangnya kesempatan lapangan pekerjaan yang terbuka untuk semua gender dan stereotip masyarakat awam. Untuk itu dibutuhkan dorongan dari semua pihak untuk terus menggali potensi kaum perempuan agar dapat menjadi wanita karir yang kuat.

Bagi organisasi, kesetaraan gender yang lebih baik juga dapat menghasilkan lebih banyak ide yang terstruktur, inovasi yang lebih luas, dan kinerja yang lebih baik. Dari pengalaman pribadi saya, saya menemukan bahwa tanggapan terbaik yang saya terima sebagai pemimpin adalah dari tim yang beragam dan heterogen.

Kaitan antara kesetaraan gender dan kinerja bahkan lebih nyata bagi perusahaan teknologi seperti perusahaan saya, dengan perusahaan yang menawarkan kesetaraan gender yang lebih baik mencapai keuntungan tahunan lebih dari 5% lebih tinggi daripada rekan-rekan mereka, menurut laporan global Morgan Stanley baru-baru ini tentang topik terkait.

Tidak mengejutkan jika tenaga kerja yang beragam dapat membantu perusahaan memahami ragam perspektif klien mereka sambil berempati dengan kekhawatiran mereka. Ketika organisasi lebih memahami kebutuhan klien mereka yang tidak terpenuhi atau tidak diartikulasikan, mereka dapat berinovasi dan menciptakan solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Kurangnya Representasi Perempuan dalam Industri STEM

Pemanfaatan teknologi tentu saja menjadi salah satu kunci dalam mendorong pertumbuhan industri dan menghadapi persaingan di era revolusi industri 4.0. Dengan melihat melampaui peran dan pekerjaan tradisional untuk perempuan, mereka yang mengambil peluang yang dihasilkan STEM tidak hanya mengubah hidup mereka sendiri. Mereka juga melakukan bagian mereka untuk membangun komunitas mereka dan memperkuat masyarakat, dan meningkatkan perekonomian bangsa.

Potensi transformatif dari partisipasi STEM perempuan dalam pertumbuhan dan perkembangan ekonomi terlihat semakin cepat dan jelas. Ketika industri dan sektor bergerak ke manufaktur tersier kelas atas dan layanan yang dipasarkan secara global, mereka akan semakin membutuhkan pekerja yang melek digital dan spesialis STEM yang sangat terampil.

Perempuan dan anak perempuan memainkan peran penting dalam membentuk masa depan kita. Indonesia membutuhkan lebih banyak ilmuwan, ahli matematika, penemu, insinyur, dan pemimpin, artinya kita membutuhkan lebih banyak anak perempuan yang belajar sains, teknologi, teknik, dan matematika di sekolah.

Kawasan Asia Pasifik menghadapi tantangan signifikan dalam membangun jaringan untuk perempuan berbakat dan mencapai kesetaraan gender. Perbedaan gender sangat mencolok dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Sebagai contoh, menurut laporan UNESCO, kurang dari seperempat peneliti di Asia Timur dan Pasifik adalah perempuan.

Salah satu alasan kurangnya perempuan dalam industri STEM dan pekerjaan teknis adalah bahwa anak perempuan sering menyerah mengejar mata pelajaran ini pada usia dini. Penelitian telah menunjukkan bahwa ada banyak faktor yang berkontribusi, mulai dari tekanan teman sebaya hingga ketiadaan panutan, hingga kepercayaan diri bahwa mereka tidak memiliki bakat alami untuk subjek STEM.

Ketika saya melihat organisasi saya sendiri, secara global jumlah karyawan perempuan saat ini ada pada angka 38% dari semua peran non-teknis di Microsoft.

Mendukung Kesetaraan Gender & Keterlibatan di dalam Organisasi

Tanggung jawab untuk membangun jaringan STEM perempuan yang lebih kuat terletak bukan hanya pada pemerintah, sekolah, dan organisasi nirlaba – bisnis juga harus berperan.

Pemikiran saya sendiri dalam bidang ini berfokus pada tiga bidang – pendekatan “Triple E” – yang dapat digunakan untuk mendorong keragaman yang lebih besar di dalam suatu organisasi dan di masyarakat sesuai dengan yang kami operasikan.

1. EVOLUSI Perekrutan dan Program Pengembangan Bakat

Untuk memecahkan status quo di keragaman gender dalam STEM, organisasi harus terlebih dahulu menentang asumsi konvensional tentang di mana dan bagaimana cara terbaik untuk mengidentifikasi kandidat. Mereka dapat memulai inisiasi untuk menemukan dan melibatkan bakat-bakat ini saat masa sekolah.

Ini akan memungkinkan kami membangun jaringan bakat yang berkelanjutan dengan memacu lebih banyak perempuan muda untuk mengejar cita-cita mereka dalam STEM dan memberi mereka gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana rasanya memiliki karir di industri-industri ini.

Misalnya, program Microsoft DigiGirlz membantu para siswi di sekolah menengah atas belajar tentang karier dalam teknologi, terhubung dengan staf Microsoft, dan berpartisipasi dalam lokakarya komputer dan teknologi.

2. Menanamkan (EMBED) Keanekaragaman di Budaya Inti Organisasi

Untuk mencapai keseimbangan gender yang lebih baik, organisasi tidak bisa hanya fokus terhadap perekrutan saja. Mereka juga harus menemukan cara untuk mempertahankan karyawan perempuan dan memberdayakan mereka untuk meningkatkan perkembangan perusahaan.

Untuk mencapai ini, para pemimpin harus menjadikan kesetaraan sebagai prioritas inti dalam perusahaan mereka dan mengembangkan sebuah budaya yaitu memberdayakan perempuan selagi memberikan peluang karir yang sama berdasarkan kinerja.

Selain itu, sistem kerja fleksibel yang memungkinkan para ibu yang bekerja untuk menyeimbangkan komitmen kantor dan keluarga mereka dengan lebih baik, memungkinkan kami untuk mempertahankan atau menyambut kembali karyawan perempuan yang harus beristirahat dari pekerjaan untuk keluarga mereka.

3. MENDUKUNG (ENFORCE) Akuntabilitas Kepemimpinan

Di Microsoft, kami meminta para pemimpin yang bertanggung jawab untuk mendorong keseimbangan gender dengan melibatkan sebagian besar dari mereka. Di Microsoft Indonesia, 50% dari Dewan Direksinya adalah perempuan. Hal ini menunjukkan perempuan juga memiliki kapasitas dalam memimpin suatu organisasi. Tingginya keterlibatan perempuan ini karena kami juga mendorong penerapan praktik inklusif di tingkat manajerial dan di atasnya melalui sesi pelatihan yang pendukung, peralatan pembelajaran, dan mekanisme pemberian tanggapan.

Menarik, mengembangkan dan mendukung perempuan untuk berkembang di bidang STEM semakin vital bagi keberhasilan banyak organisasi dan juga membangun masyarakat yang inklusif dan menyeluruh. Jika kita terus berjuang untuk membawa pikiran, pengalaman, kemampuan, dan perspektif setengah dari populasi ke dalam angkatan kerja kita, inovasi akan tertahan, dan tantangan masyarakat kita yang paling mendesak dan kompleks tidak akan sepenuhnya ditangani dalam skala besar.

Sebagai penutup, saya berharap Anda menerima dengan baik dalam kesetaraan keberagaman dan inklusi Anda sendiri, saat kami merayakan Hari Kartini dan kontribusi unik dan tak ternilai dari perempuan di tempat kerja dan di dalam masyarakat secara keseluruhan.