Komputasi Awan Dukung Keamanan Transaksi E-Payment di Indonesia

Tingkat keamanan komputasi awan yang tinggi diperlukan untuk menjamin cyber security dalam transaksi e-payment

Jakarta, 13 Mei 2016 – Para pakar IT di Indonesia menilai peningkatan transaksi elektronik (epayment) perlu dibarengi dengan peningkatan keamanan siber (cyber security).
Saat ini Indonesia masih menjadi negara dengan tingkat serangan siber yang cukup tinggi. Dalam laporan Microsoft berjudul “Security Intelligence Report v20” yang dipublikasikan pada 5 Mei 2016, terungkap bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat infeksi malware terbesar, yaitu di atas 50%. Setiawan Adhiputro, Vice President – Governance, Risk, and Compliance, KartuKu mengungkapkan, “Sebagai salah satu negara dengan infeksi malware terbesar, Indonesia membutuhkan platform teknologi yang aman untuk mendukung penerapan transaksi e-payment.”

Komputasi awan dapat menjadi solusi yang aman untuk mendukung berkembangnya penerapan e-payment di Indonesia. Data yang disimpan ke dalam komputasi awan terjamin keamanannya karena berbagai peraturan serta standar praktek keamanan informasi seperti ISO 27001 turut mengelola sistem keamanan komputasi awan. Microsoft sendiri berinvestasi besar untuk menjamin keamanan Microsoft Azure. Sebagai hasilnya, Microsoft Azure sukses menjadi penyedia layanan komputasi awan pertama yang diakui oleh otoritas perlindungan data Uni Eropa karena komitmennya terhadap undang-undang privasi yang ketat di Uni Eropa.

Tony Seno Hartono, National Technology Officer, Microsoft Indonesia.

Tony Seno Hartono, National Technology Officer, Microsoft Indonesia.

Lebih jauh Tony Seno Hartono, National Technology Officer, Microsoft Indonesia menerangkan, “Microsoft membangun keamanan komputasi awan secara menyeluruh, dimulai dengan Security Development Lifecycle atau proses pengembangan yang memiliki persyaratan keamanan dalam setiap prosesnya. Microsoft membantu memastikan bahwa komputasi awan terproteksi secara fisik, jaringan, host, aplikasi serta layer data, sehingga layanan online yang kami sediakan tahan terhadap serangan siber.”

Melalui keamanan yang ditawarkan oleh komputasi awan, transaksi e-payment dapat semakin berkembang sejalan dengan target pemerintah untuk menjadikan Indonesia Less Cash Society. Penerapan e-payment di Indonesia saat ini masih memiliki tantangan dari segi cyber security. Dari hasil temuan Norton Cybersecurity Insight Report, rata-rata pengguna dunia siber kehilangan hampir US$358 per orang atau sekitar total US$150 miliar akibat kejahatan siber per tahun. Di Indonesia sendiri, kerugian akibat kejahatan siber diperkirakan mencapai Rp 33,29 miliar. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan perampokan nasabah bank secara konvensional.

Pembicara Cloud Computing Masterclass sedang berdiskusi mengenai cyber security issue dalam transaksi keuangan online.

Pembicara Cloud Computing Masterclass sedang berdiskusi mengenai cyber security issue dalam transaksi keuangan online.

Menurut Ardi Sutedja, Board Secretary – Professions & Associations Board, MASTEL, kejahatan siber lebih disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat pengguna internet untuk menjaga keamanan transaksi keuangan online-nya. “Dari sisi teknologi sebetulnya transaksi dapat berjalan cukup aman dengan menggunakan komputasi awan. Persoalan terbesar dalam kejahatan siber terkait transaksi elektronik justru berasal dari penggunanya sendiri. Pengguna saat ini terlalu percaya diri dengan pengetahuan yang dimilikinya tentang keamanan online. Sebagian besar dari mereka tidak melakukan tindakan mendasar dalam hal keamanan online, seperti penggunaan kata sandi yang terlalu sederhana,” papar Ardi saat menjadi pembicara dalam Cloud Computing Masterclass yang digelar oleh Microsoft Indonesia pada hari ini.

Para pembicara dan peserta Cloud Computing Masterclass.

Para pembicara dan peserta Cloud Computing Masterclass.

—–
Tentang Microsoft
Microsoft (Nasdaq “MSFT” @microsoft) adalah perusahaan terdepan dalam bidang perangkat dan produktivitas di era “mobile-first, Komputasi Awan-first” dan aspirasi kami adalah untuk memberdayakan setiap individu dan setiap organisasi di dunia untuk memperoleh pencapaian yang lebih besar.

Tentang Kartuku (PT Multi Adiprakarsa Manunggal)
Kartuku berdiri sejak tahun 2001 dengan menjalani usahanya di bidang penyediaan EDC (Electronic Data Capture). Pada tahun 2006 Kartuku melakukan revitalisasi penuh dengan  pengembangan model bisnisnya menjadi perusahaan teknologi infrastruktur pembayaran non-tunai yang menyediakan solusi end-to-end berupa pembangunan jaringan dan pengembangan layanan pendukung sistem pembayaran di Indonesia. Sebagai perusahaan yang ahli dibidangnya, Kartuku mengusung Secure Payments. Simplified dengan menciptakan layanan UNIFIED Payment berupa network cloud-based berstandarisasi kelas dunia dan layanan produk pendukung yang dapat memfasilitasi masyarakat dengan kemudahan akses, handal, dan keamanan terjamin.

Tentang Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL)
MASTEL merupakan wadah bagi seluruh pemangku kepentingan di bidang Telekomunikasi, Teknologi Informasi, Komunikasi dan Penyiaran. yang didirikan pada tanggal 1 Desember 1993. MASTEL secara intens menjalin kemitraan kerja dengan eksekutif diantaranya Kementerian KOMINFO RI, Kementerian Perdagangan, BAPPENAS, Kementerian Perindustrian, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Koordinator Bidang POLHUKAM. Disamping eksekutif, MASTEL juga aktif berkomunikasi dengan Komisi I DPR RI. Untuk informasi lebih lanjut mengenai MASTEL, silakan kunjungi situs http://www.mastel.id.

Indonesia (Indonesia)
Ikon Penolakan Pilihan Privasi Anda Pilihan Privasi Anda
Privasi Kesehatan Konsumen Hubungi Microsoft Privasi Kelola cookie Persyaratan penggunaan Merek dagang Mengenai iklan kami