Perjalanan UMKM Ternate untuk Naik Kelas dengan Bantuan AI

Read in English here.

Menjaga Warisan agar Tetap Tumbuh

Di sebuah rumah sederhana, suara minyak panas dan aroma kerupuk yang mengembang memenuhi dapur keluarga yang sudah puluhan tahun menjadi saksi usaha kecil bernama Kerupuk & Peyek Takoma. Alfitrah, sang pemilik yang merupakan lulusan arsitektur berusia 23 tahun itu menatap konsep kemasan baru yang ia buat berkat hasil eksplorasinya menggunakan Microsoft Designer, alat berbasis AI yang baru ia kenal setelah mengikuti kelas AILeap Nusantara pada acara Pekan Inovasi AI. Dalam pelatihan tersebut, Alfitrah belajar menggunakan AI sebagai partner untuk menjawab persoalan desain dan pengembangan produk yang selama bertahun-tahun berjalan apa adanya.

Alfitrah saat mempresentasikan hasil pengembangan produknya menggunakan teknologi AI 

Usaha rintisan keluarganya itu telah berdiri sejak 1998 dan kini memproduksi sekitar 100 kemasan per hari untuk beragam jenis produk, mulai dari kerupuk plompong, kerupuk rambak, tempe, udang, hingga kerupuk kotak. Produk‑produk tersebut sebagian besar dijual melalui pasar tradisional dan kios lokal di Ternate. Selama hampir tiga dekade, bukan hanya kemasan yang nyaris tidak berubah, tetapi juga cara memasarkannya. Keluarga Alfitrah memilih berhati‑hati dalam melakukan pembaruan karena khawatir pelanggan lama tidak lagi mengenali produk, atau justru membebani usaha dengan biaya desain dan operasional yang tinggi.

Bagi Alfitrah, mempertahankan tradisi tidak berarti menutup diri dari perkembangan. Sebelum mengikuti pelatihan, Alfitrah telah mencoba belajar secara mandiri dari internet. Meski begitu, ia sering merasa ide‑idenya berhenti di kepala. Proses pengembangan usahanya berjalan lambat, dan ia belum menemukan cara untuk menata semuanya menjadi langkah usaha yang utuh. Namun di pelatihan ini, ia mulai melihat AI bukan sebagai alat menggantikan kreativitas, melainkan sebagai partner berdiskusi.

Ia juga melihat langsung bagaimana pelatihan AI membuka peluang baru bagi UMKM daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses, bukan hanya dalam  branding, tetapi juga dalam cara menyampaikan produk dan menjangkau pasar. Menurutnya, banyak pelaku usaha sebenarnya memiliki produk yang kuat, tetapi ragu berinvestasi pada upaya promosi, pengembangan usaha, dan desain karena keterbatasan biaya. Dengan kemampuan memanfaatkan AI secara mandiri, kreativitas dan daya saing UMKM lokal bisa tumbuh tanpa harus menunggu modal besar.

Pada kelas AILeap Nusantara, kelompok Alfitrah menjadi salah satu kelompok yang diminta langsung menerapkan materi yang dipelajari ke dalam usahanya. Mereka menyusun sebuah deck presentasi yang berisi praktik pemanfaatan AI untuk usahanya, mulai dari pengembangan ide produk, logo, kemasan, narasi produk, hingga rencana strategi konten dan pemasaran.

Dalam tahap awal pengembangan ide, Alfitrah menggunakan Microsoft Copilot untuk mengeksplorasi bagaimana produk kerupuk yang sudah umum dapat dikembangkan lebih jauh. Dari proses tersebut, muncul gagasan kerupuk berbahan limbah tulang ikan yang belum banyak dikembangkan sehingga memberi nilai tambah dari sisi keberlanjutan. Ia juga memanfaatkan Microsoft Copilot untuk menelusuri opsi kemasan yang lebih tahan lama dan ramah lingkungan yaitu paper bag dengan lapisan kedap udara di bagian dalam agar produk lebih awet.

Setelah ide produk dan arah kemasan terbentuk, Alfitrah mengandalkan Microsoft Designer  untuk menuangkannya ke dalam bentuk visual. Alfitrah bereksperimen dengan logo Takoma, menambahkan unsur ikan agar lebih merepresentasikan produk. Seluruh rangkaian eksplorasi ini menunjukkan bagaimana kombinasi Microsoft Copilot dan Microsoft Designer membantu Alfitrah bekerja lebih terarah dan percaya diri dalam menata ulang usaha keluarganya.

Pendekatan inilah yang mengantarkan Alfitrah sebagai salah satu kelompok terbaik dalam sesi praktik AILeap Nusantara. Penilaian dilakukan langsung oleh Muhammad Ghifary, trainer dari Fokus Target Solusi, yang melihat konsistensi antara ide, proses, dan pemanfaatan AI secara tepat guna.

Setelah mengikuti pelatihan, Alfitrah mulai merasakan perubahan nyata dalam cara ia mengembangkan usaha keluarganya. Proses pembuatan kemasan dan materi promosi menjadi jauh lebih cepat dan terjangkau. Berangkat hasil praktik tersebut, ia merencanakan uji coba lanjutan mulai bulan Juni, sekaligus mengaktifkan promosi digital untuk membawa usaha keluarga yang telah berjalan hampir tiga dekade ini memasuki fase modernisasi dan perluasan pasar. Keluarganya pun menyambut perubahan ini dengan antusias dan memberikan dukungan penuh.

Logo usaha sebelum (kiri) dan sesudah (kanan) dimodifikasi menggunakan AI 
Packaging sebelum (kiri) & setelah (kanan) menggunakan AI 

“Banyak UMKM di Ternate sebenarnya punya produk bagus, tetapi masih terbatas dalam desain dan branding,” ujar Alfitrah. “Setelah belajar menggunakan AI seperti Microsoft Designer, saya merasa lebih percaya diri untuk mengembangkan kemasan dan promosi produk kami. Teknologi ini membuat pelaku usaha daerah bisa lebih kreatif dan kompetitif.”

Di pelatihan itu, modernisasi lahir bukan dari perubahan besar yang instan, melainkan dari keberanian satu orang untuk mencoba. Dari keinginan seorang anak menjaga warisan keluarga, sambil memastikan warisan itu tidak berhenti tumbuh.

Perubahan yang Dimulai dari Keberanian Mencoba

Di tempat lain di Ternate, seperti biasa, Junaidi Dahlan memulai harinya dengan berjalan di jalur kecil menuju bangunan penyulingan minyak cengkeh yang dikelola oleh Kelompok Tani Hutan Buku Manyeku. Di usianya yang menginjak kepala empat, ia bukan hanya seorang petani, tetapi juga bendahara kelompok yang sejak 2017 mengelola hutan negara di pulau ini secara lestari bersama lebih dari dua puluh orang.

Minyak cengkeh menjadi salah satu fokus utama kelompok ini yang telah berjalan sejak 2019, sekaligus menjadi simbol harapan bahwa hasil hutan bukan kayu dapat memberi nilai tambah tanpa merusak ekosistem yang selama ini mereka jaga. Namun, perjalanan usaha tersebut tidak pernah sepenuhnya mudah. Di luar ruang produksi yang telah ia kuasai, Junaidi berhadapan dengan tantangan yang menuntut keterampilan berbeda, keterampilan yang selama ini belum dimiliki oleh kelompoknya. Memberi identitas pada produk, menyusun cerita yang menjelaskan nilainya, dan menghubungkan minyak cengkeh Pulau Hiri dengan pasar yang lebih luas membutuhkan cara kerja baru.

Sejatinya cengkeh bukanlah komoditas biasa. Tanaman endemik kepulauan Maluku ini sejak berabad‑abad lalu telah menjadi bagian dari sejarah perdagangan global. Digunakan dalam industri pangan, farmasi, kosmetik, hingga aromaterapi, minyak cengkeh memiliki permintaan internasional yang besar, dengan nilai ekspor yang sempat mencapai 324,93 juta dolar AS pada 2024[1].

Junaidi ketika mempraktikkan hasil pelatihan

Ketika kabar tentang pelatihan AI AILeap Nusantara yang digelar oleh Fokus Target Solusi turut hadir dalam rangkaian acara Pekan Inovasi AI akhirnya sampai ke Ternate, Junaidi datang tanpa ekspektasi besar melainkan untuk mencari sebuah ilmu. Bagaimana cara menyusun narasi tentang produk yang lebih menarik, cara berpikir lebih terstruktur, dan cara merencanakan usaha dalam jangka menengah hingga panjang, sesuatu yang sebelumnya terasa mahal dan sulit dijangkau tanpa bantuan profesional. Ia menyadari bahwa petani dan pelaku UMKM perlu beradaptasi dengan teknologi jika ingin berkembang.

Dalam pelatihan tersebut, Junaidi juga belajar memanfaatkan AI sebagai sumber inspirasi visual untuk desain label dan kemasan, hingga merancang konten yang kelak dapat digunakan untuk website dan media sosial. Ia mulai memahami bahwa AI bukan alat ajaib yang menggantikan manusia, melainkan asisten kerja dan teman diskusi yang membantu merapikan gagasan. Ia juga belajar bahwa hasil AI tidak bisa digunakan mentah‑mentah. Setiap output perlu dibaca ulang, dikoreksi, dan disesuaikan dengan konteks nyata di lapangan.

Logo usaha sebelum (kiri) dan sesudah (kanan) dimodifikasi menggunakan AI

Sekembalinya ke Pulau Hiri, ia membawa semangat yang berbeda. Ia mulai membayangkan website resmi Kelompok Tani Hutan Buku Manyeku agar produk mereka mudah ditemukan oleh pihak luar. Ia juga mulai menyiapkan panduan sederhana untuk mengajarkan dasar penggunaan AI kepada anggota kelompoknya mulai dari menulis caption produk hingga memahami dasar media sosial. Yang terpenting, ia mulai percaya bahwa usaha kecil dari pulau terpencil pun memiliki peluang yang sama untuk naik kelas.

Memastikan Inklusivitas untuk Pelaku UMKM Daerah

Perjalanan Alfitrah dan Junaidi merupakan bagian dari Pekan Inovasi AI, sebuah acara kolaboratif yang diselenggarakan oleh Microsoft Elevate bersama Fokus Target Solusi, Biji‑Biji Initiative, dan Alkademi, dengan tujuan meningkatkan literasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan di Maluku Utara. Dalam rangkaian acara tersebut, Fokus Target Solusi mengambil peran pada hari ketiga dengan sasaran utama pelaku UMKM dan ekonomi kreatif. Peserta diajak memahami branding produk, strategi usaha, kampanye pemasaran, re‑packaging dan pembuatan konten berbasis AI mulai dari desain kemasan menggunakan Microsoft Designer, foto produk dan konten visual, hingga video singkat dan jingle produk. Pendekatan ini dilanjutkan melalui pelatihan daring selama bulan Ramadan, yang secara khusus menyesuaikan kebutuhan promosi UMKM di bulan Ramadan.

Muhammad Ghifary, seorang AI expert sekaligus trainer ekonomi kreatif dari Fokus Target Solusi, menyaksikan langsung bagaimana perubahan kecil mulai terjadi.

“Setiap UMKM di Maluku Utara membawa cerita, rasa, dan identitas yang kuat. Melalui pelatihan AI Microsoft Copilot, Designer, dan Suno, saya menemani teman‑teman pelaku UMKM untuk menerjemahkan kekayaan lokal itu menjadi karya promosi yang lebih terarah. Ketika melihat brand produk mereka tampil lebih menggugah dalam waktu yang singkat dari hasil kolaborasi dengan AI, ada rasa bangga dan haru yang sulit dijelaskan. Pelatihan ini mengingatkan saya bahwa teknologi justru bisa memperkuat nilai‑nilai lokal, bukan menggantikannya, sekaligus membangun kepercayaan diri baru untuk berkarya secara mandiri.”

Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Microsoft Elevate di Maluku Utara serta harapannya agar pelatihan serupa dapat diperluas ke berbagai sektor.

“Terimakasih sudah memilih Maluku Utara menjadi salah satu lokasi untuk launching pembelajaran Copilot Microsoft AI untuk tahun 2026. Kita membuka tahun 2026 ini dengan sangat produktif. Harapannya, jika ada pelatihan ke depan, para ASN pun bisa mendapatkan kelas sehingga bisa membantu mereka membuat kerja‑kerjanya menjadi lebih efektif dan produktif,” tuturnya.

Dari sisi penguatan ekonomi, inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing UMKM daerah “UMKM di daerah memiliki produk dan potensi yang kuat. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan daya saingnya. Akses untuk meningkatkan keterampilan AI dapat membantu pelaku usaha mengoptimalkan cara mereka merencanakan, memasarkan, dan mengembangkan bisnis,” ujar Arief Suseno, AI Skills Director Microsoft Indonesia.

Meski menjalankan bisnis yang berbeda, Junaidi dan Alfitrah dipersatukan oleh keyakinan yang sama bahwa perkembangan tidak harus menunggu modal besar atau infrastruktur yang sempurna. Bagi mereka, perubahan dimulai dari keberanian melihat usaha dengan cara baru dan mencoba alat yang sebelumnya terasa jauh dari keseharian.

Kini, kesempatan bagi UMKM di daerah untuk melangkah lebih jauh semakin nyata. Daftar melalui nusantara.elevaite.id dan bawa UMKM Anda naik kelas.

###


[1] Outlook Cengkeh. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2025.

Indonesia (Indonesia)
Ikon Penolakan Pilihan Privasi Anda Pilihan Privasi Anda
Privasi Kesehatan Konsumen Hubungi Microsoft Privasi Kelola cookie Persyaratan penggunaan Merek dagang Mengenai iklan kami