Satu Tahun Indonesia Central: Mendorong Inovasi, Memberdayakan Indonesia
Read in English here.
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, komputasi awan (cloud) mungkin terasa seperti sesuatu yang tidak terlihat. Ia hadir di balik berbagai aktivitas sehari-hari: mengirim pesan, melakukan pembayaran, mengikuti rapat daring, menyimpan dokumen, hingga melatih model AI. Semuanya berjalan cepat, ringan, dan hampir tidak disadari.
Namun, cloud tidak benar-benar “mengambang” di ruang hampa. Di balik pengalaman digital yang terasa instan itu, terdapat infrastruktur fisik berskala besar yang dikenal sebagai datacenter region. Di salah satu koridor industri ternama di Indonesia, infrastruktur tersebut kini hadir melalui Microsoft Indonesia Central Cloud Region—sebuah fondasi digital yang bekerja senyap, tetapi menopang banyak hal: dari penyimpanan data yang aman, operasional aplikasi penting, hingga pengembangan dan penerapan solusi AI yang semakin dekat dengan kebutuhan Indonesia.
Sebagai datacenter region pertama Microsoft di Indonesia, Indonesia Central memang tidak dirancang untuk menjadi sorotan. Berbeda dengan berbagai teknologi konsumen maupun enterprise yang didukungnya, infrastruktur cloud dan AI justru bekerja paling baik ketika tidak terasa keberadaannya. Datacenter merupakan salah satu jenis bangunan dengan tingkat pembatasan dan perlindungan paling ketat di dunia. Ia dirancang untuk tangguh, aman, dan dapat diandalkan. Namun, dampaknya jauh dari tak kasatmata. Setiap hari, infrastruktur seperti Indonesia Central ikut menopang transaksi keuangan, operasional bisnis, layanan publik digital, serta pemanfaatan AI yang semakin luas di berbagai sektor industri.
Kini, satu tahun sejak peluncurannya, Indonesia Central menjadi lebih dari sekadar simbol kehadiran infrastruktur cloud Microsoft di Indonesia. Ia juga membuka ruang untuk melihat lebih jauh apa saja yang dibutuhkan untuk menjaga infrastruktur digital berskala besar tetap berjalan—mulai dari teknologi pendinginan, pasokan energi, standar keamanan, hingga talenta manusia di baliknya.
Melihat Datacenter Region Dengan Lebih Dekat
Dari luar, tampilan Indonesia Central terlihat sederhana. Tidak ada penanda mencolok yang memperlihatkan kompleksitas teknologi di dalamnya. Namun, begitu melewati lapisan keamanan yang ketat, pemandangannya berubah: deretan server rack tersusun panjang dan rapi, dengan lampu-lampu indikator yang berkedip stabil di sepanjang lorong.
Di ruang yang terasa tenang itu, data sebenarnya terus bergerak. Permintaan diproses, informasi disimpan, aplikasi dijalankan, dan model AI didukung secara real-time. Server–server inilah yang menjadi inti kerja cloud, menopang kebutuhan organisasi di Indonesia yang semakin mengandalkan teknologi digital dan AI dalam kegiatan sehari-hari.

Namun, yang menarik dari sebuah datacenter modern bukan hanya deretan perangkat kerasnya, melainkan ekosistem yang dibangun untuk memastikan seluruh sistem dapat bekerja tanpa henti. Di dalamnya, ribuan prosesor—CPU dan GPU—beroperasi terus-menerus. Aktivitas komputasi berskala besar ini menghasilkan suhu operasional yang tinggi, mirip dengan laptop yang memanas ketika dipaksa bekerja terlalu berat, hanya saja dalam skala yang jauh lebih besar. Jika suhu tersebut tidak dikelola dengan baik, performa perangkat dapat menurun. Dalam konteks AI, tantangannya semakin besar. Semakin tinggi kebutuhan komputasi untuk menjalankan workload AI, semakin tinggi pula suhu yang dihasilkan oleh sistem yang menopangnya. Karena itu, pengelolaan suhu bukan sekadar isu teknis, melainkan salah satu faktor utama yang menentukan keandalan cloud.
Di Indonesia Central, sistem pendinginan dan aliran udara dirancang sebagai bagian integral dari infrastruktur. Alih-alih hanya mengandalkan metode tradisional, fasilitas ini menggunakan teknologi pendinginan mutakhir, termasuk direct-to-chip liquid cooling, untuk membantu mengalirkan suhu tinggi secara lebih efisien sekaligus mengurangi penggunaan sumber daya yang tidak diperlukan. Secara sederhana, pendekatan ini bekerja seperti sistem sirkulasi tertutup. Alih-alih menggunakan sumber daya pendinginan satu kali lalu membuangnya, banyak sistem di dalam datacenter dirancang untuk mengalirkan dan menggunakan kembali sumber daya tersebut dalam kondisi yang terkendali. Dengan cara ini, kondisi operasional dapat tetap stabil, tanpa kehilangan air melalui proses penguapan.
“Asumsi yang umum muncul adalah bahwa liquid coolingmenggunakan lebih banyak air dibandingkan air cooling. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Air coolingmengandalkan penguapan untuk melepaskan beban termal, dan proses penguapan tersebut terus-menerus mengonsumsi air. Sebaliknya, liquid coolingbekerja dalam sistem tertutup tanpa penguapan. Air yang sama dapat terus bersirkulasi di dalam sistem hingga tujuh tahun tanpa perlu diganti,” ujar Alistair Speirs, General Manager for Azure Infrastructure, Microsoft.
Di era AI, kebutuhan terhadap daya komputasi akan terus meningkat. Artinya, kebutuhan pendinginan juga ikut bertambah. Di sinilah desain infrastruktur memainkan peran penting: memastikan performa yang semakin tinggi tetap dapat dicapai tanpa mengorbankan efisiensi maupun aspek keberlanjutan.
“Pengelolaan air secara bertanggung jawab merupakan bagian penting dari bagaimana kami merancang dan mengoperasikan datacenter. Datacenterkami yang sudah ada dirancang untuk dapat beroperasi pada suhu yang lebih tinggi, sehingga dapat mengurangi konsumsi air dan memungkinkan kami menggunakan air secara lebih efisien dibandingkan datacenterlainnya. Pada saat yang sama, kami mulai menerapkan desain datacentergenerasi berikutnya yang tidak menggunakan air untuk pendinginan, didukung oleh metode pendinginan mutakhir di tingkat chip. Desain ini menghilangkan kebutuhan akan pendinginan berbasis penguapan,” lanjut Alistair.
Dirancang untuk Tetap Berjalan
Jika sistem pendinginan menjaga kinerja perangkat, pasokan listrik memastikan seluruh infrastruktur tetap hidup. Untuk sebuah datacenter region seperti Indonesia Central, kebutuhan energi tidak cukup hanya stabil. Ia harus memiliki tingkat keandalan yang jauh melampaui fasilitas konvensional. Karena itu, infrastrukturnya dibangun secara berlapis. Indonesia Central tidak bertumpu pada satu sumber atau satu jalur pasokan saja. Ketika satu sistem mengalami gangguan, sistem lain dirancang untuk mengambil alih secara cepat dan mulus, sehingga operasional tetap berjalan tanpa terputus.
Upaya menjaga keandalan ini juga berjalan berdampingan dengan komitmen keberlanjutan. Di Indonesia, Microsoft menjalin kemitraan selama 10 tahun dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mendukung penyaluran 200 MW energi terbarukan ke jaringan listrik. Selain pemanfaatan energi terbarukan, ketahanan operasional juga diperkuat melalui sistem cadangan yang menggunakan alternatif rendah karbon seperti biofuel. Pendekatan ini mencerminkan kebutuhan untuk terus menjaga keandalan, sekaligus mengurangi dampak lingkungan di tengah pertumbuhan permintaan digital.
Indonesia Central bahkan didukung oleh gardu induk tegangan tinggi miliknya sendiri—sebuah pendekatan yang lebih sering diasosiasikan dengan industri berat. Hal ini menunjukkan bahwa infrastruktur di era AI tidak lagi dapat dipahami sebagai sekadar ruang server. Ia semakin menjadi bagian dari tulang punggung digital sebuah negara.
“Kemitraan dengan PLN menandai tonggak penting dalam mendorong komitmen keberlanjutan di Indonesia. Perjanjian selama 10 tahun ini akan menghadirkan 200 MW tenaga surya di Indonesia. Kami tidak hanya memastikan pasokan energi terbarukan bagi operasional kami, tetapi juga membantu mempercepat transisi Indonesia menuju jaringan listrik yang lebih bersih, sekaligus mendukung tujuan Microsoft untuk menjadi carbon negativepada 2030,” ujar Noelle Walsh, President, Cloud Operations & Innovation, Microsoft.
Aman dan Berkelanjutan Secara Desain
Di Indonesia Central, keberlanjutan tidak hanya terlihat dari sisi energi, tetapi juga dari praktik operasional sehari-hari. Berbagai inisiatif dilakukan untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus memberi nilai tambah bagi komunitas sekitar. Kemasan kayu, misalnya, didaur ulang menjadi furnitur rumah tangga. Limbah beton dimanfaatkan kembali untuk jalan desa dan fondasi rumah. Sisa makanan dari kantin di lokasi dialihkan untuk mendukung pertanian komunitas setempat. Selain itu, penggunaan pasokan besi tulangan dan beton lokal membantu mengurangi emisi CO2 yang berkaitan dengan transportasi material. Microsoft juga mendukung proyek ketahanan air bersama Yayasan Rumah Energi melalui pemanenan air hujan.
Di sisi lain, keamanan menjadi elemen yang dirancang dengan tingkat ketelitian yang sama. Perlindungan di dalam datacenter region dibangun dalam berbagai lapisan: fisik, digital, dan prosedural. Pengamanan fisik mengatur siapa yang dapat masuk, bagaimana pergerakan dipantau, dan area mana yang memiliki akses terbatas. Sistem digital memastikan data tetap terisolasi, terenkripsi, dan terlindungi. Sementara itu, prosedur operasional mengatur bagaimana manusia berinteraksi dengan data dan sistem, dengan penekanan kuat pada akuntabilitas.
Dengan kata lain, keamanan di Indonesia Central tidak hanya tentang penjaga, gerbang, dan kamera. Ia merupakan sistem kepercayaan yang dibangun sejak tahap desain, selaras dengan prinsip Microsoft dalam menjaga keamanan dan privasi pelanggan.
Manusia di Balik Mesin
Meski sering dibayangkan sebagai ruang yang didominasi perangkat keras, namun Indonesia Central seutuhnya merupakan cerita tentang manusia.
Di balik operasionalnya, terdapat 99 profesional dengan keahlian tinggi yang bekerja di lokasi, mulai dari teknisi, insinyur kelistrikan, hingga pakar operasional. Mereka memastikan infrastruktur ini dapat berjalan setiap hari, mendukung berbagai organisasi yang mengandalkan cloud untuk menjalankan layanan digitalnya. Kehadiran infrastruktur seperti ini juga membuka kebutuhan terhadap talenta baru. Program seperti Nusantara Datacenter Academy (NDCA) dirancang untuk menciptakan jalur menuju karier teknis di industri datacenter, dengan menggabungkan pembelajaran di kelas dan pengalaman langsung. Hingga saat ini, puluhan pelajar telah mengikuti program tersebut, dengan jumlah peserta yang diharapkan terus bertambah seiring perluasan inisiatif ini.

Di luar NDCA, Microsoft juga memperluas fokusnya pada peningkatan keterampilan digital dan AI di Indonesia.
Melalui program Microsoft Elevate, perusahaan bekerja sama dengan berbagai mitra di sektor pemerintahan, pendidikan, dan industri untuk membekali masyarakat dengan keterampilan yang dibutuhkan di tengah ekonomi yang semakin digerakkan oleh AI. Rangkaian inisiatif ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur digital tidak hanya berhenti pada bangunan, server, dan sistem. Yang tidak kalah penting adalah memastikan masyarakat Indonesia dapat mengambil bagian dalam peluang ekonomi yang tumbuh di atas infrastruktur tersebut.
“Indonesia memiliki momentum digital yang kuat dan proyeksi pertumbuhan datacenter yang menjanjikan. Pada saat yang sama, operasional datacenter modern membutuhkan kapabilitas khusus, termasuk keahlian di bidang keamanan siber dan AI. Langkah logis berikutnya untuk membangun dan memperluas talenta adalah memastikan jalur keterampilan vokasi, sertifikasi, dan program akademik lokal dapat bergerak seiring pertumbuhan tersebut. Karena itu, kami memadukan investasi infrastruktur dengan pengembangan tenaga kerja melalui inisiatif seperti kemitraan dengan NDCA maupun program peningkatan keterampilan kami sendiri, Microsoft Elevate. Dengan begitu, nilai ekonomi dapat tetap bertumbuh secara lokal, dan pertumbuhan digital dapat diterjemahkan menjadi lapangan kerja lokal yang terampil,” ujar Dharma Simorangkir, President Director, Microsoft Indonesia.
Pada akhirnya, nilai sesungguhnya dari infrastruktur cloud dan AI tidak hanya diukur dari seberapa besar atau canggih fasilitasnya, tetapi dari bagaimana ia digunakan. Sejak diluncurkan, Indonesia Central telah mendukung berbagai organisasi di sektor-sektor utama, termasuk telekomunikasi, kesehatan, energi, dan perbankan, dalam bermigrasi ke cloud dan membangun solusi AI yang lebih dekat dengan kebutuhan lokal.
Di sektor jasa keuangan, Bank Negara Indonesia (BNI) Finance memigrasikan lebih dari 200 terabyte data penting dan lebih dari 100 layanan aplikasi ke Microsoft Azure dan Indonesia Central datacenter region hanya dalam waktu dua bulan. Langkah ini memungkinkan penguatan kontrol keamanan, sekaligus mendukung kebutuhan residensi data lokal.
Di sektor pendidikan, Universitas Terbuka menggunakan Azure OpenAI Service untuk mengembangkan kapabilitas AI Tutor yang mendukung lebih dari 100.000 mahasiswa di 500 kelas. Dengan pendekatan ini, pengalaman belajar digital dapat menjadi lebih skalabel dan personal, menjangkau lebih banyak peserta didik di berbagai wilayah Indonesia.
Kisah-kisah tersebut mencerminkan apa yang Microsoft sebut sebagai Frontier Firms: organisasi pelopor yang memanfaatkan AI untuk membentuk ulang industrinya, mengubah cara mereka beroperasi, berinovasi, dan melayani masyarakat.
Perkembangan ini juga menjadi bagian dari kisah yang lebih besar di Asia. Dari Malaysia dan Thailand hingga Jepang dan India, Microsoft terus memperluas datacenter region untuk menghadirkan kapasitas AI lebih dekat ke tempat yang membutuhkannya. Dalam konteks tersebut, Indonesia Central menjadi salah satu bab penting dari pembangunan regional Microsoft, sekaligus bagian dari komitmen senilai USD1,7 miliar yang diumumkan pada 2024 untuk mempercepat ekonomi AI Indonesia.
Seiring meningkatnya kebutuhan terhadap cloud dan AI, peran Indonesia Central akan semakin penting. Tantangannya tidak hanya bagaimana tumbuh lebih besar, tetapi bagaimana tumbuh secara bertanggung jawab—menyeimbangkan performa, keberlanjutan, dan keamanan, sambil terus berinvestasi pada manusia dan kemitraan yang dapat memastikan nilai digital benar-benar dirasakan di Indonesia.
###
Gambar 1. Tampilan udara Indonesia Central datacenter region Microsoft (Sumber: Microsoft)