Ketika Dunia Virtual Menjawab Tantangan Nyata: Guru dan Siswa Indonesia Menyalakan Lentera Inovasi AI Melalui Microsoft Elevate

Melalui program Practical AI Skilling for Teachers and Future-ready Students di bawah payung Microsoft Elevate, Microsoft bersama Alkademi dan ParagonCorp mendorong guru menjadi penggerak perubahan di ruang kelas, sekaligus membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan solusi AI yang relevan bagi masyarakat.

Di dalam sebuah simulasi virtual yang dibangun menggunakan Minecraft Education, rumah-rumah yang rusak akibat bencana tidak lagi bergantung sepenuhnya pada penilaian manual. Sebuah AI Agent dapat bergerak secara mandiri untuk menilai tingkat kerusakan, menentukan kebutuhan perbaikan, dan menjalankan simulasi rekonstruksi bangunan dengan mempertimbangkan keselamatan masyarakat.

Simulasi tersebut dikembangkan oleh Glorious Ariel Heaveniawan Purwoto bersama tim “Effie Von Reva”. Berangkat dari pengamatan bahwa proses penilaian dan perbaikan infrastruktur pasca bencana kerap berjalan lambat dan dapat membahayakan petugas di lapangan, siswa asal Boyolali, Jawa Tengah, itu ingin menunjukkan bahwa AI bukan sekadar konsep abstrak. Dengan akses, pendampingan, dan ruang bereksperimen yang tepat, AI dapat diterjemahkan menjadi solusi praktis bagi tantangan kemanusiaan.

Proyek bertajuk ‘Autonomous Humanitarian Relief’ tersebut mengantarkan timnya meraih juara pertama National AI Coding Challenge. Melalui empat prinsip: fokus kemanusiaan, otonomi, desain yang dapat dikembangkan, serta pengambilan keputusan berbasis data, Ariel dan tim menunjukkan bagaimana generasi muda dapat menggunakan AI untuk membayangkan respons bencana yang lebih cepat, aman, dan terukur.

Kisah Ariel menjadi salah satu gambaran semangat yang dirayakan dalam ‘Elevate: Lentera Inovasi’, acara puncak rangkaian program ‘Practical AI Skilling for Teachers and Future-ready Students’. Diselenggarakan di Paragon Community Hub, acara ini mempertemukan guru, siswa, penggerak pendidikan, dan mitra ekosistem untuk berbagi pengalaman, memamerkan karya inovatif, serta merefleksikan perjalanan mereka dalam membawa coding dan AI ke dalam proses pembelajaran.

Arief Suseno, AI Skills Director Microsoft Indonesia, mengatakan bahwa pengembangan keterampilan AI perlu berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas guru dan pemberian ruang bagi siswa untuk bereksperimen.

“Dampak AI dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya. Yang lebih penting adalah kemampuan guru dan siswa untuk menggunakannya secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab. Melalui Microsoft Elevate, kami ingin membantu guru membangun kepercayaan diri untuk membawa AI ke dalam pembelajaran, sekaligus membuka ruang bagi siswa untuk mengubah rasa ingin tahu mereka menjadi solusi bagi tantangan nyata di masyarakat,” ujar Arief.

Ketika guru tidak hanya belajar, tetapi menggerakkan

Di balik karya-karya siswa, terdapat guru-guru yang berperan sebagai jembatan antara teknologi dan kebutuhan nyata di ruang kelas.

Program ini dikembangkan untuk memperkuat kapasitas guru dalam mengintegrasikan literasi digital, berpikir komputasional, coding, dan pemahaman AI ke dalam pembelajaran. Melalui model pembelajaran bertingkat atau cascade training, guru yang telah mendapatkan pelatihan dipersiapkan untuk membagikan kembali pengetahuan kepada rekan pendidik dan siswa di komunitasnya.

Perjalanan para guru diperkuat melalui pendekatan LEAPS—Learn, Explore, Amplify, Present, dan Shine. Guru tidak hanya diminta menyelesaikan materi pelatihan, tetapi juga menerapkannya dalam situasi kelas, mengajak guru dan siswa lain untuk belajar, membagikan praktik baik, dan memperluas dampak pembelajaran di komunitas masing-masing. Kerangka ini juga digunakan dalam ekosistem Microsoft Elevate yang lebih luas untuk mendorong peserta bergerak dari penguasaan teori menuju penerapan dan amplifikasi praktik pembelajaran.

Salah satu penggeraknya adalah Dewi Pujining Nugraheni, guru asal Kabupaten Purbalingga. Bagi Dewi, pembelajaran teknologi harus berangkat dari semangat learning by doing. Ia ingin siswa memahami bahwa AI bukan hanya sesuatu yang dipelajari dari buku, melainkan alat yang dapat digunakan bersama-sama untuk memahami dan menyelesaikan masalah di sekitar mereka.

Sebagai alumni Wardah Inspiring Teacher, Dewi membawa pembelajaran keluar dari ruang kelasnya sendiri. Atas inisiatif pribadi, ia mendatangi lebih dari lima sekolah untuk memperkenalkan Minecraft Education, ‘Hour of Code: Voyage Aquatic’, dan ‘AI for Oceans’. Ia juga mendampingi rekan-rekan guru agar lebih percaya diri mengajarkan berpikir komputasional kepada siswa.

Perjalanannya menggambarkan makna seorang pengganda dampak atau multiplier: manfaat yang tercipta tidak berhenti pada peningkatan kompetensi pribadi, tetapi meluas kepada guru, sekolah, dan siswa lain. Posisinya sebagai salah satu dari tiga AI Coding Ambassador Level 2 dengan peringkat tertinggi dalam program tersebut menjadi cerminan dari upaya akar rumput yang dilakukan secara konsisten.

Semangat serupa tumbuh di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, dalam perjalanan Mansur. Ia membawa misi sederhana, tetapi fundamental: jarak geografis dari kota-kota besar tidak seharusnya membatasi akses guru terhadap teknologi pembelajaran kelas dunia.

Mansur di Innovation Hub Microsoft Experience Center Asia.

Dengan memanfaatkan kurikulum terstruktur dan Minecraft Education, Mansur mendampingi guru dan siswa di lingkungannya untuk mengenal coding dan AI, sekaligus mempersiapkan mereka berpartisipasi dalam kegiatan di tingkat nasional. Ruang kelas yang sebelumnya jauh dari pusat ekosistem teknologi perlahan berkembang menjadi tempat siswa dan guru bereksperimen, berkolaborasi, dan membangun kepercayaan diri.

Pembelajaran yang tetap berjalan di tengah tantangan

Perjalanan transformasi tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal.

Di Kabupaten Pasaman, Yuli Fitria tetap mengintegrasikan pembelajaran coding dan AI ketika masyarakat di sekitarnya sedang berupaya pulih dari dampak banjir. Sebagai pendidik di SMA Negeri 1 Rao, Yuli memandang pendidikan sebagai salah satu fondasi pemulihan: sarana untuk menjaga semangat belajar, membangun harapan, dan mempersiapkan siswa menghadapi masa depan.

Minecraft Education memberinya ruang untuk menjaga keterlibatan siswa melalui pemecahan masalah, eksplorasi, dan kerja kolaboratif. Bagi Yuli, penggunaan teknologi bukan upaya untuk mengabaikan situasi yang sedang dihadapi komunitasnya. Sebaliknya, teknologi menjadi cara untuk membantu siswa melihat bahwa mereka tetap dapat belajar, menciptakan, dan merancang kemungkinan baru di tengah keterbatasan.

Di Jakarta, M. Fajri Santosa membawa dampak dalam skala yang berbeda. Sebagai pendidik di SMP Negeri 25 Jakarta dan salah satu pelatih Wardah Inspiring Teacher Generasi 8, Fajri tidak hanya mengintegrasikan AI ke dalam pembelajaran di sekolahnya, tetapi juga melatih rekan-rekan pendidik dari berbagai daerah.

Posisinya dalam lima besar papan peringkat nasional LEAPS mencerminkan konsistensinya dalam menguasai ekosistem pembelajaran AI dan memperluas pengetahuan tersebut kepada guru lain. Melalui perannya sebagai “guru bagi para guru”, kompetensi personal berkembang menjadi kapasitas kolektif, sebuah unsur penting agar transformasi pendidikan tidak bergantung pada segelintir individu.

Kisah Dewi, Mansur, Yuli, dan Fajri memperlihatkan bahwa peningkatan kapasitas guru tidak dapat diukur hanya dari berapa banyak modul yang diselesaikan. Dampak yang lebih penting terlihat ketika guru berani mencoba pendekatan baru, membagikan pengetahuan, dan menciptakan lingkungan yang membuat siswa lebih percaya diri untuk bereksperimen.

Minecraft sebagai laboratorium pemecahan masalah

Jika LEAPS memperkuat guru sebagai penggerak pembelajaran, National AI Coding Challenge memberi ruang bagi siswa untuk menerjemahkan pembelajaran tersebut menjadi solusi.

Bagi siswa, Minecraft Education menjadi lebih dari sekadar permainan. Platform ini berfungsi sebagai laboratorium digital tempat mereka dapat menguji algoritma, membangun simulasi, melihat konsekuensi dari keputusan, dan memperbaiki solusi secara berulang.

Dalam National AI Coding Challenge, tim-tim siswa ditantang untuk menciptakan dunia Minecraft berbasis AI yang menjawab persoalan nyata dalam empat area: pendidikan, lingkungan, keamanan masyarakat, dan aksesibilitas. Mereka tidak hanya membangun lingkungan visual, tetapi juga merancang otomatisasi dan algoritma yang menggerakkan AI Agent di dalamnya.

Beragam gagasan muncul dari tantangan tersebut, mulai dari sistem yang membantu mengarahkan masyarakat menuju zona aman ketika terjadi gempa, pencarian rute pembangunan yang mempertimbangkan jarak dan kondisi medan, hingga agen yang membantu menilai dan memperbaiki rumah setelah bencana.

Menurut Alfan Hidayatullah, Chief of Education, Alkademi, salah satu perkembangan paling menonjol selama program berlangsung adalah kemampuan peserta untuk menghubungkan keterampilan teknis dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.

“Kami melihat bahwa para guru dan siswa tidak berhenti pada tahap mempelajari cara kerja coding atau AI. Mereka mulai bertanya bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan di sekolah dan komunitas masing-masing. Dari guru yang memperluas pembelajaran kepada ratusan peserta lain hingga siswa yang merancang simulasi untuk respons bencana, program ini menunjukkan bahwa akses, pendampingan, dan ruang bereksperimen dapat membuka potensi inovasi dari berbagai daerah,” ujar Alfan.

Di sinilah National AI Coding Challenge menjadi lebih dari sebuah kompetisi. Tantangan ini memberi siswa ruang untuk melihat bahwa teknologi bukan hanya sesuatu yang digunakan, tetapi juga dapat dibentuk, diuji, dan diarahkan untuk membantu orang lain.

Dari pengalaman belajar menuju ekosistem yang lebih luas

‘Elevate: Lentera Inovasi’ menjadi ruang bertemunya dua bentuk kepemimpinan: guru yang memperluas akses terhadap pembelajaran, dan siswa yang menggunakan pembelajaran tersebut untuk menciptakan solusi.

Para guru dan siswa terpilih juga mendapatkan kesempatan memperluas perspektif melalui kunjungan pembelajaran ke Singapore Microsoft Technology Center (MTC). Di sana, mereka mendalami perkembangan teknologi, AI, dan berbagai kemungkinan penerapannya dalam pendidikan.

Dampak yang terus meluas

Hingga 31 Juli 2026, program ‘Practical AI Skilling for Teachers and Future-ready Students’ telah melibatkan 85.469 guru dalam pelatihan coding dan AI. Melalui kegiatan pembelajaran berjenjang, para peserta kemudian memperluas manfaat program kepada 64.999 guru dan 2.734 siswa di 38 provinsi dan 407 kota-kabupaten.

National AI Coding Challenge turut diikuti oleh 42 tim dari 42 sekolah di berbagai wilayah Indonesia. Dari keseluruhan peserta tersebut, 10 tim terpilih sebagai finalis dan mempresentasikan solusi mereka dalam rangkaian program. Sementara itu, ‘Elevate: Lentera Inovasi’ dihadiri oleh 102 peserta, yang terdiri atas guru, siswa, mitra pendidikan, dan pemangku kepentingan ekosistem.

Sebagai bagian dari apresiasi dan pengembangan kapasitas lanjutan, 2 guru dan 3 siswa terpilih juga mengikuti kunjungan pembelajaran ke Singapore Microsoft Technology Center.

Guru dan siswa terpilih di Singapore Microsoft Technology Center.

Namun, momentum tersebut bukanlah garis akhir perjalanan para guru dan siswa ini. Nilai terbesar program terletak pada apa yang terjadi setelah para peserta kembali ke sekolah dan komunitas masing-masing: ketika seorang guru melatih rekan pendidik lain; ketika siswa melihat masalah di lingkungannya sebagai sesuatu yang dapat dicari solusinya; dan ketika penggunaan AI di ruang kelas selalu disertai kemampuan berpikir kritis, kreativitas, empati, serta tanggung jawab.

Perjalanan para peserta menunjukkan bahwa masa depan pendidikan berbasis AI tidak hanya dibangun melalui perangkat dan platform. Masa depan tersebut dibangun oleh manusia: guru yang terus belajar, siswa yang berani bertanya, dan komunitas yang memberi mereka ruang untuk menciptakan perubahan.

###

Gambar utama: Glorius Ariel Heaveniawan bersama tim “Effie Von Reva” di Singapore Microsoft Technology Center.

Indonesia (Indonesia)
Ikon Penolakan Pilihan Privasi Anda Pilihan Privasi Anda
Privasi Kesehatan Konsumen Hubungi Microsoft Privasi Kelola cookie Persyaratan penggunaan Merek dagang Mengenai iklan kami